Millennium Development Goals (MDGs)

millenium-photo

MILLENNIUM DEVELOPMENT GOAL’S (MDGs)

Oleh:

Manggaukang Raba

 

MILLENNIUM Development Goals (MDGs) atau Tujuan Pembangunan Milenium (TPM), adalah paradigma pembangunan global yang telah disepakati secara internasional oleh 189 negara (termasuk Indonesia) saat dilangsungkan Millenium Summit (Konferensi Tingkat Tinggi Milenium) pada bulan September 2000. MDGs secara formal telah dideklarasikan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Reoslusi Nomor 55/2 tanggal 18 September 2000 tentang Milenium Perserikatan Bangsa-Bangsa (A/RES/55/2. United Nations Millennium Declaration).

Dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Milenium bulan September 2000 di New York Amerika Serikat, telah di deklarasikan 8 (delapan) tujuan (goals) pembangunan dengan 18 target pencapaian selama kurun waktu 1990 – 2015. Kedelapan tujuan tersebut sebagai respon atas permasalahan perkembangan global, yang kesemuanya harus tercapai pada tahun 2015. Tujuan tersebut sekaligus merupakan sebuah framework pembangunan sosial dan memperluas manfaatnya untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia. Dengan kata lain, MDGs menempatkan pembangunan manusia sebagai fokus utama pembangunan serta memiliki tenggat waktu dan kemajuan yang terukur.

Setiap tujuan memiliki satu atau beberapa target berikut indikatornya, yang secara keseluruhan ada 18 target dan sejumlah indikator. Kedelapan tujuan MGDs, secara ringkas dapat dikemukakan, yaitu:

  • Tujuan 1: Menanggulangi kemiskinan dan kelaparan ekstrim;
  • Tujuan 2: Mencapai pendidikan dasar untuk semua orang;
  • Tujuan 3: Mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan;
  • Tujuan 4: Menurunkan tingkat kematian anak;
  • Tujuan 5: Memperbaiki kualitas kesehatan maternal (ibu hamil);
  • Tujuan 6: Memerangi HIV/AIDS, Malaria, dan penyakit kronis lainnya (tuberkulosa);
  • Tujuan 7: Memastikan kelestarian lingkungan hidup; dan
  • Tujuan 8: Menjalin kermitraan global untuk pembangunan.

Di Indonsia, indikator MDGs yang sementara diaplikasikan perhitungannya baru tujuan 1 sampai tujuan 7, sedangkan tujuan ke-8 belum sepenuhnya dilaksanakan.

Tujuan tersebut, bagi Indonesia, sesungguhnya telah menjadi program dan kegiatan pembangunan baik di pusat maupun daerah, sejak awal kemerdekaan, yaitu sejak masa Pemerintahan Presiden Soekarno, Presiden Soeharto, Presiden B. J. Habibie, Presiden Abdurrahman Wahid, Presiden Megawati Soekarno Putri, sampai Preisiden Soesilo Bambang Yudhoyono sekarang. Hanya saja, sebelum Deklarasi MDGs, belum ada standarisasi pengukuran keberhasilan pembangunan yang jelas dan berkesinambungan.

Pada masa Presiden Soekarno, misalnya, pemerintah menerbitkan dokumen perencanaan pembangunan yang disebut: Garis-Garis Besar Rencana Pembangunan Lima Tahun 1956 – 1960 dan Pokok-Pokok Pembangunan Nasional Semesta Berencana Tahun 1961 – 1969. Terlihat bahwa dari dua dokumen perencanaan tersebut sudah nampak komitmen Indonesia dalam peningkata pendapatan nasional (1956 – 1960) dan peningkatan kualitas manusia (1961-1969).

Kemudian, sejak tahun 1970-an pemerintah menggulirkan program-program peningkatan kesejahteraan yang meliputi: pendidikan, kesehatan perorangan, kesehatan reproduksi, dan penanggulangan kemiskinan melalui Repelita di masa Orde Baru.

Perhatian dan komitmen terhadap MDGs terus mengalami kemajuan, baik pada tingkat global maupun nasional. Hal ini ditunjukkan oleh:

Pertama, pada tahun 2001, Sekretaris Jendral Perserikatan Bangsa-Bangsa menghadirkan Perencanaan Menuju Pengimplementasian Deklarasi Milenium (Road Map towards the Implementation of the United Nations Millenium Declaration). Perencanaan tersebut merupakan ikhtisar yang terpadu dan komprehensif menguraikan berbagai strategi potensial dalam memenuhi tujuan dan komitmen dari Deklarasi Milenium. Sejak itu, peta strategis tersebut telah menelurkan laporan tahunan.

Kedua, tahun 2002, laporan MDGs memfokuskan pada kemajuan yang dibuat dalam pencegahan konflik bersenjata dan pencegahan penyakit menular, termasuk HIV/AIDS dan Malaria.

Ketiga, tahun 2003, laporan tahunan MDGs menekankan pada strategi pembangunan berkelanjutan.

Keempat, pada tahun 2004, laporan MDGs fokus pada keterpisahan digital dan pengekangan kriminal antarnegara.

Kelima, pada tahun 2005, Sekretaris Jendral PBB menyiapkan laporan terpadu berjangka lima tahun berisi kemajuan dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium. Laporan ini meninjau ulang implementasi dari keputusan yang diambil dari hasil berbagai konferensi dan sesi khusus yang membahas negara-negara yang paling tidak berkembang, kemajuan dalam memerangi HIV/AIDS dan pendanaan untuk pembangunan berkelanjutan.

Khusus di Indonesia, laporan perkembangan pencapaian MDGs tingkat nasional pertama kali dibuat pada Februari 2004, namun data yang disaajikan adalah data tahun 2002. Laporan kedua dibuat pada tahun 2005 dalam bentuk laporan ringkas; dan laporan ketiga tahun 2007 yang bersifat nasional. Pada tahun 2008, laporan singkat pencapaian MDGs di Indonesia juga dibuat dalam laporan singkat.

Laporan perkembangan MDGs di Indonesia sampai saat ini, baru pada tingkat nasional. Artinya, data-data yang ditampilkan, baru dapat menggambarkan perkembangan pencapaian di tingkat nasional. Walaupun dalam beberapa aspek juga mencapai tingkat provinsi, namun belum dapat menggambarkan capaian di tingkat kabupaten/kota.

Penyajian indikator pada tingkat nasional tentu saja belum dapat menggambarkan keadaan sosial ekonomi sesunggunya yang terjadi di Indonesia. Kondisi geografis Indonesia yang berbeda daria daerah satu dengan daerah lainnya, keragaman etnis dan sosial budaya akan sangat berpengaruh pada pencapaian MDGs nasional. Di Indonesia sampai saat ini, secara administrasi pemerintahan terbagi menjadi 33 provinsi dan terbagi menjadi 471 lebih kabupaten/kota dan meliputi lebih dari 5.900 kecamatan.

Adalah sangat ideal, untuk bisa menyajikan pencapaian target MDGs pada tingkat adminsitrasi pemerintahan yang lebih rendah, seperti provinsi, kabupaten/kota, bahkan sampai kecamatan dan atau desa. Dengan demikian, akan dapat diketahui disparitas pencapaian setiap indikator antardaerah. Namun, persoalanya kemudian adalah terletak pada ketersediaan data yang terkait dengan pembangunan dan khususunya data yang terkait dengan indikator MDGs sampai tingkat kecamtan dan atau desa.

Dengan data dan informasi pembangunan yang tersedia dengan baik, akan menjadi bahan masukan penting bagi para perencana untuk merumuskan kebijakan dari bawah (bottom up), sehingga program pembangunan terarah dan tepat sasaran. Membangun memang memerlukan biaya yang sangat mahal, akan tetapi akan lebih mahal lagi bila perencanaan pembangunan tidak menggunakan data dan informasi yang akurat. Oleh karena itu, pengumpulan data dan informasi pada wilayah terkecil (kecamatan dan atau desa) menjadi sangat penting untuk dilaksanakan.

Tujuan, Teget dan Indikator MDGs Indonesia

MDGs Indonesia dalam aplikasinya baru melaksanakan secara penuh tujuan 1 sampai tujuan 7, sedangkan tujuan ke-8 belum seluruhnya dilaksanakan. Dengan kata kain, Indonesia melaksanakan seluruh tujuan: tujuan 1 – 8, dengan 15 target (tiga target belum dilaksanakan), dan 59 indikator, yaitu sebagai berikut:

Tujuan 1: Menanggulangi Kemiskinan dan Kelaparan

Indikator

Target 1: Menurunkan proporsi penduduk yang tingkat pendapatannya dibawah US$ 1 (PPP) per har menjadi setenagnya dalam kurun waktu 1990 – 2015.

Indikator:

  • Persaentase penduduk dengan tingkat konsusmi dibawah US$ 1 (PPP) per hari;
  • Persaentase penduduk dengan tingkat konsusmi dibawah gris kemiskinan nasional;
  • Indeks kedalamam kemiskinan;
  • Indeks keparahan kemiskinan; dan
  • Proporsi konsumsi penuduk termiskin (kuantil pertama).

Target 2: Menurunkan proporsi penduduk yang menderita kelaparan menjadi setengahnya dalam kurun waktu 1990 – 2015.

Indikator:

  • Persentase anak-anak berusia dibawah 5 tahun (balita) yang mengalami gizi buruk (severe underweight);
  • Persentase anak-anak berusia dibawah 5 tahun (balita) yang mengalami gizi kurang (moderate underweight);

Tujuan 2: Mencapai Pendidikan Dasar Untuk Semua

Target 3: Memastikan pada tahun 2015, semua anak, dimanalun, laki-laki dan perempuan dapat menyelesaikan pendidikan dasar.

Indikator:

  • Angka Partisipasi Murni (APM) Sekolah Dasar/Madrasyah Ibtidaiyah (7-12 tahun);
  • Angka Partisipasi Murni (APM) Sekolah Menengah Pertama/Madrasyah Tsanawiiyah (13-15 tahun);
  • Angka melek huruf usia 15 – 24 tahun.

Tujuan 3: Mendorong Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan

Target 4: Menghilkangkan ketimpangan gender di tingkat pendidikan dasar dan lanjutan pada tahun 2005 dan di semua jenjang pendidikan tidak lebih dari tahun 2015.

Indikator:

  • Rasio anak perempuan terhadap anak laki-laki di tingkat penidikan dasar, lanjutan, dan tinggi, yang diukur melalui agka partisipasi murni anak perempuan terhadap anak laki-laki;
  • Rasio melek huruf perempuan terhadap laki-laki usia 15-24 tahun, yang diukur melalui angka melek huruf perempuan/laki-laki (indeks paritas melek huruf gender);
  • Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) perempuan;
  • Tingkat pengangguran terbuka (TPT) perempuan;
  • Kontribusi perempuan dalam pekerjaan upahan;
  • Tingkat daya beli (Purchasing Power Parity atau PPP) pada kelompok perempuan;
  • Proporsi perempuan dalam lembaga-lembaga publik (legislatif, eksekutif, dan yudikatif).

Tujuan 4: Menurunkan Tingkat Kematian Anak

Target 5: Menurunkan angka kematian balita (AKBA) sebesar dua pertiganya (67%) dalam kurun waktu 1990 – 2015.

Indikator:

  • Angka kematian bayi (AKB) per 1.000 kelahiran hidup;
  • Angka kematian balita (AKBA) per 1.000 kelahiran hidup;
  • Anak usia 12 – 23 bulan yang diimunisasi campak (%)

Tujuan 5: Meningkatkan Kesehatan Ibu 

Target 6: Menurunkan angka kematian ibu sebesar tiga perempatnya (75%) dalam kurun waktu 1990 – 2015.

Indikator:

  • Angka kematian ibu melahirkan (AKI) per 1.000 klahiran hidup;
  • Proporsi kelahiran yang ditangani oleh tenaga kesehatan (%);
  • Proporiosi wanita 15 – 49 tahun berstatus kawin yang sedang menggunakan atau memakai alat Kelarga berencana (%).

Tujuan 6: Memerangi HIV dan AIDS, Malaria dan Penyakit Menular Lainnya 

Target 7: Mengendalikan penyebaran HIV dan AIDS dan mulai menurunnya jumlah kasus baru pada tahun 2015.

Indikator:

  • Prevalensi HIV dan AIDS;
  • Penggunaan kondom pada hubungan seks berisiko tinggi;
  • Penggunaan kondom pada pemakai kontrasepsi;
  • Persentase penduduk usia muda 15-24 tahun yang mempunyai pengetahuan kompreensif tentang HIV dan AIDS.

Target 8: Mengendalikan penyakit Malaria dan mulai menurunnya jumlah kasus malaria dan penyakit lainnya pada tahun 2015.

Indikator:

  • Prevalensi Malaria per 1.000 penduduk;
  • Prevalensi tuberkulosa per 100.000 penduduk;
  • Angka penemuan pasien tuberkulosis BTA positif baru (%);
  • Angka keberhasilan pengobatan pasien tuberkulosis (%).

Tujuan 7: Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup

Target 9: Mengintegrasikan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan ke dalam kebijakan dan program nasional, serta mengembalikan sumber daya lingkungan yang hilang

Green Indikator:

  • Rasio luas kawasan tertutup pepohonan berdasarkan hasil pemotretran Satelit Landsat terhadap luas daratan (%);
  • Rasio luas kawasan tertutup pepohonan berdasarkan luas kawasan hutan, kawasan lindung, dan kawasan konservasi termasuk kawasan perkebunan dan hutan rakyat terhadap luas daratan (%);
  • Rasio luas kawasan lindung terhadap luas daratan (%);
  • Rasio luas kawasan lindung perairan (marine protected area) terhadap luas daratan (%).

Brown Indikator kehilangan tersebut secara signifikan pada tahun 2010

  • Jumlah emisi karbondiaoksida (CO2) (metric ton);
  • Jumlah konsumsi bahan perusak ozon (BPO) (ton);
  • Rasio jumlah emisi karbondioksida (CO2) terhadap jumlah penduduk Indonesia (%);
  • Jumlah penggunaan energi dari berbagai jenis (setara barel minyak, SBM): (a) Fosil; dan (b) Non-fosil;
  • Rasio penggunaan energi (total) dari berbagai jenis terhadap Produk Domestik regional Bruto (%);
  • Penggunaan energi dari beragaiu jenis secara absolute (metric ton).

Target 10: Mengurangi hingga setengahnya (50%) proporsi penduduk tanpa akses terhadap air minum yang aman dan berkelanjutan serta fasilitas sanitasi dasar pada tahun 2015.

Indikator:

  • Proporsi rumah tangga terhadap penduduk dengan berbagai kriteria sumber air (total) (%);
  • Proporsi rumah tangga/penduduk dengan berbagai kriteria sumber air (perdesaan) (%);
  • Proporsi rumah tangga/penduduk dengan berbagai kriteria sumber air (perkotaan) (%);
  • Cakupan pelayanan perusahaan daerah air minum (KK);
  • Proporsi rumah tangga dengan akses pada fasilitas sanitasi yang layak (total) (%);
  • Proporsi rumah tangga dengan akses pada fasilitas sanitasi yang layak (perdesaan) (%);
  • Proporsi rumah tangga dengan akses pada fasilitas sanitasi yang layak (perkotaan) (%);

Target 11: Mencapai perbaikan yang berarti dalam kehidupan penduduk miskin di permukiman kumuh pada tahun 2020.

Indikator:

  • Proporsi rumah tangga yang memiliki atau menyewa rumah (%).

Tujuan 8: Mengembangkan Kemitraan Global untuk Pembangunan

Target 12: Mengembangkan sistem keuangan dan perdagangan yang terbuka, berbasis peraturan, dapat diprediksi, dan tidak diskriminatif.

Indikator:

  • Rasio antara jumlah ekspor dan impor dengan PDB. Rasio ini menunjukkan tingkat keterbukaan suatu ekonomi (%);
  • Rasio antara kredit dan tabungan (LDR) Bank Umum (%). Rasio ini menunjukkan peningkatan atau pengurangan fungsi intermediasi bank umum;
  • Rasio antara kredit dan tabungan (LDR) Bank Perkrediktan Rakyat (%). Rasio ini menunjukkan peningkatan atau pengurangan fungsi intermediasi Bank Perkreditan Rakyat (BPR).

Target 13: Mengatasi persoalan khusus Negara-negara yang paling tertinggal (negara-negara miskin). Termasuk akses bebas tarif dan bebas kuota untuk produk ekspor negara-negara paling tertingal dan miskin, mendorong program penghaousan utang dari negara-negara penghutang besar dan miskin serta penghaousan utang bilateral resmi, dan menyediakan bantuan pembangunan resmi yang lebih banyak bagi negara-negara yang berkomitmen pada penanggulangan kemikinan.

Target 14: Mengatasi kebutuhan khusus di negara-negara berkembang yang hanya memiliki batas wilayah daratan dan kepulauan kecil melalui Program Aksi bagi Pembangunan Berkelanjutan Negara Pulau Kecil, dan hasil dari sesi khusus ke-22 Sidang Umum PBB.

Target 15: Menangani hutang negara berkembang melalui upaya nasional maupun Internasional agar pengelolaan hutang berkesinambungan dalam jangka panjang.

Indikator:

  • Rasio pinjaman luar negeri terhadap PDB;
  • Debt-to Service Ratio (DSR).

Target 16: Bekerjasama dengan negara lain untuk mengembangkan dan menerapkan strategi penciptaan lapangan kerja yang baik dan produktif bagi penduduk usia muda.

Indikator:

  • Tingkat pengangguran usia muda (15-24 tahun);
  • Tingkat pengangguran usia muda (15-24 tahun) menurut jenis kelamin;
  • Tingkat pengangguran usia muda (15-24 tahun) menurut provinsi.

Target 17: Bekerjasama dengan perusahaan farmnasi, menyediakan akses bagi obat-obatan esensial dengan harga dan akses yang terjangkau di negara berkembang.

Terget 18: Bekerjasama dengan swasta pdalam pemanfaatan teknologibaru, terutama teknologi informasi dan komunikasi.

Indikator:

  • Persentase rumah tangga yang memiliki telepon dan telepon seluler;
  • Persentase rumah tangga yang memiliki komputer personal dan mengakses internet melalui komputer. (mr)