Kunjungan ke Provinsi Zhejiang dan Kota Hangzhou

kunjungan-mangga-china

Kunjungan ke Provinsi Zhejiang dan Kota Hangzhou

Manggaukang Raba

 

Setelah bertemu dengan pimpinan Pempro Zhejiang, delegasi mengunjungi Zhejiang Provincial Museum. Selanjutnya bertemu dengan dinas terkait pempro Zhejiang dan mengunjungi Wetland XiXi. Malamnya menyaksikan pertunjukan lokal di Song Dynasty Town dengan judul: Romantic Dynasty Song”.

  1. Provinsi Zhejiang

Zhejiang, adalah pesisir timur provinsi dari Republik Rakyat Cina. Zhejiang berbatasan dengan Jiangsu provinsi dan Shanghai kotamadya di utara, Anhui provinsi di barat laut, Jiangxi provinsi di barat, dan Fujian provinsi di selatan; ke timur adalah Laut Cina Timur.

Nama provinsi ini berasal dari Sungai Zhe (juga Zhe Jiang), mantan nama Sungai Qiantang yang mengalir melewati Hangzhou dan yang mulutnya membentuk Hangzhou Bay.

Zhejiang sebagian besar terdiri dari perbukitan, yang mencapai sekitar 70% dari luas total. Ketinggian cenderung tertinggi di selatan dan barat dan puncak tertinggi dari provinsi, Huangmaojian Puncak (1.929 meter dpl atau 6.329 kaki), terletak di sana. Gunung terkemuka lainnya termasuk Mounts Yandang, Tianmu, Tiantai, dan Mogan, yang mencapai ketinggian 700 sampai 1.500 meter (2.300 meter dpl ke 4.900 ft).

Ada lebih dari tiga ribu pulau di sepanjang pantai kasar dari Zhejiang. Yang terbesar, Zhoushan Pulau, adalah pulau terbesar ketiga Daratan China, setelah Hainan dan Chongming. Ada juga banyak teluk, yang Hangzhou Bay adalah yang terbesar. Zhejiang memiliki iklim subtropis lembab dengan empat musim yang berbeda. Semi dimulai Maret dan hujan dengan cuaca berubah. Musim panas, dari bulan Juni sampai September adalah panjang, panas, hujan, dan lembab. Jatuh umumnya kering, hangat dan cerah. Winters pendek tapi dingin kecuali di selatan jauh. Suhu rata-rata tahunan adalah sekitar 15 sampai 19°C (59-66°F), rata-rata suhu bulan Januari adalah sekitar 2 sampai 8°C (36-46°F) dan rata-rata suhu bulan Juli sekitar 27 sampai 30°C (81-86 ° F). Curah hujan tahunan adalah sekitar 1.000 sampai 1.900 mm (39-75 in). Ada banyak curah hujan di awal musim panas, dan pada akhir musim panas Zhejiang langsung terancam oleh topan terbentuk di Pasifik.

Provinsi ini secara tradisional dikenal sebagai “Tanah Ikan dan Beras”. Sesuai dengan namanya, beras adalah tanaman utama, diikuti oleh gandum; utara Zhejiang juga merupakan pusat budidaya di Cina, dan perikanan Zhoushan adalah pusat perikanan yang terbesar di negara ini. Tanaman utama disini meliputi rami dan kapas, dan provinsi juga memimpin provinsi di Cina dalam produksi teh. Teh terkenal adalah teh Longjing merupkan produk dari Hangzhou.

Pada tahun 1832, provinsi ini mengekspor sutra, kertas, penggemar, pensil, anggur, teh dan “emas-berbunga”. Ningbo, Wenzhou, Taizhou dan Zhoushan yang pelabuhan komersial penting. The Hangzhou Bay Bridge antara Haiyan County dan Cixi , adalah jembatan terpanjang di atas tubuh terus menerus air laut di dunia.

Sektor manufaktur utama Zhejiang adalah industri elektromekanis, tekstil, industri kimia, makanan, dan bahan bangunan. Dalam beberapa tahun terakhir Zhejiang telah mengikuti model pembangunan sendiri, dijuluki “model Zhejiang”, yang didasarkan pada memprioritaskan dan mendorong kewirausahaan, penekanan pada usaha kecil responsif terhadap keinginan pasar, investasi publik besar ke infrastruktur, dan produksi barang murah dalam jumlah besar baik untuk konsumsi domestik dan ekspor. Akibatnya, Zhejiang telah membuat dirinya salah satu provinsi terkaya, dan “Semangat Zhejiang” telah menjadi sesuatu dari legenda di Cina. Namun, beberapa ekonom sekarang khawatir bahwa model ini tidak berkelanjutan, dalam hal ini tidak efisien dan menempatkan tuntutan tidak masuk akal pada bahan baku dan utilitas umum, dan juga jalan buntu, di bahwa usaha kecil segudang di Zhejiang memproduksi barang-barang murah dalam jumlah besar tidak mampu pindah ke industri yang lebih canggih atau teknologi yang lebih maju.

Inti ekonomi Zhejiang bergerak dari Utara Zhejiang, berpusat pada Hangzhou, arah tenggara ke wilayah berpusat pada Wenzhou dan Taizhou. Pendapatan per kapita disposable dari urban di Zhejiang mencapai 24.611 yuan (US $ 3.603) pada tahun 2009, pertumbuhan riil tahunan 8,3%. Pendapatan per kapita murni penduduk pedesaan berdiri di 10.007 yuan (US $ 1.465), pertumbuhan riil sebesar 8,1% year-on-year. PDB nominal Zhejiang untuk 2011 adalah 3,20 triliun yuan (US $ 506.000.000.000) dengan per kapita PDB 44.335 yuan (US $ 6.490).

  1. Kota Hangzhou

Hangzhou adalah ibukota Provinsi Zhejiang di Tenggara China, dengan sejarah lebih dari 2.000 tahun. Hangzhou terletak di tepian sungai Qintang. Dan kanal besar Beijing-Hangzhou terdapat di ujung selatan sungai Qiantang. Hangzhou yang memiliki luas wilayah sekitar 340 kilometer persegi, berpenduduk sekitar 1,12 juta jiwa. Dijuluki “Surga di bawah surga,” kota ini terkenal di seluruh dunia untuk pemandangan alamnya yang indah, peninggalan sejarah banyak, sutra halus dan teh Longjing. Hangzhou adalah salah satu dari tujuh ibu kota kuno di Cina.

Penjelajah Italia, Marco Polo, menggambarkan Hangzhou sebagai kota paling cantik dan mewah di dunia. Daerah Danau Barat yang indah memiliki lebih dari 60 situs peninggalan budaya dan sejumlah objek wisata alam yang mempesona. Tidak hanya itu, kota Hangzhou itu sendiri memang sangat indah, menempati kota wisata kedua di Tiongkok sesudah Beijing.

Hangzhou adalah kota dengan sejarah dan kebudayaan yang kaya. Nama Hangzhou pertama sekali diperkenalkan pada abad keenam, ketika Kanal Megah terbuka dan menghubungkan antara satu daerah perdagangan dengan daerah pusat perdagangan lainnya seperti Suzhou. Pada masa Dinasti Song Selatan, telah turut membantu menjadikan Hangzhou sebagai kota terkenal ketika mereka menjadikan Hangzhou sebagai ibukota Tiongkok pada abad ke-12.

Hangzhou juga merupakan pusat politik, ekonomi, kebudayaan dan transportasi di provinsi Zhejiang juga kota penghasil sutera terbesar di Tiongkok dan mempunyai sejarah lebih dari 1000 tahun dalam pengelohan teh, memiliki beberapa industri penting yang menjadi penyangga kota ini, antara lain, industri mesin, bahan tekstil, dan kimia dengan menghasilkan GDP tahunan di atas 7,72 miliar yuan RMB. Sementara itu, di Hangzhou terdapat berbagai hasil produksi dari penduduk setempat, seperti teh Longjing, anggur beras Shaoxing, kain sutera, payung sutera khas Danau Barat, barang-barang yang terbuat dari bambu, seperti sumpit bambu Danau Barat, berbagai karya pahatan batu Qingtian, pahatan kayu Dongyang, dan lain sebagainya. Iklim di Hangzhou saat itu sangat bagus dan nyaman, musim semi di Hangzhou telah benar-benar hadir, sepanjang jalan kita bisa melihat pohon-pohon kembali dirimbuni oleh daun-daun nan hijau, sementara kuntum-kuntum bunga pun bermekaran di sana-sini dengan aneka warna, merah, kuning, hijau, dan putih. Kesemuanya sangat mendukung bagi kegiatan berpariwisata.

  1. Museum Provinsi Zhejiang

Museum Provinsi Zhejiang adalah museum besar seni Cina yang terletak dekat Danau Barat di Hangzhou, Cina. Didirikan pada tahun 1929, dan sekarang sudah lebih dari 100.000 item dalam koleksi tetapnya.

China National Silk Museum berlokasi disekitar Jalan Yu Huang No. 73 serta berada pada bilangan bagian selatan sebuah bentangan danau indah serta menawan, yakni West Lake. Salah satu dari sederetan daya tarik yang turut membawa keberadaan pusat wisata sejarah dan kebudayaan ini sebagai sebuah bangunan museum dengan beragam jenis objek atau fitur-fitur bernuansa alam mengagumkan. China National Silk Museum, sejatinya diresmikan sebagai sebuah pusat wisata sejarah atau kebudayaan pada tahun 1992 silam.

Sejak pertama kali dibuka untuk kepentingan umum, kehadiran museum yang sejatinya juga secara khusus dibangun untuk menampilkan pesona maupun keindahan kebudayaan sutra china tersebut, dikabarkan telah berhasil memikat hati bahkan mencuri perhatian banyak kalangan wisatawan domestik juga mancanegara. Bahkan keberadaanya turut dikabarkan telah menjelma sebagai museum kain sutra terbesar dan terlengkap disepanjang wilayah dataran China hingga dunia.

  1. Wetland XiXi

Terletak di bagian barat Hangzhou, kurang dari 5 km dari West Lake, Xixi National Wetland Park adalah lahan basah perkotaan langka. Dengan sumber daya ekologi yang kaya, pemandangan alam yang sederhana dan budaya mendalam, itu dikenal sebagai salah satu dari Tiga “Xi” bersama dengan Xihu (West Lake) dan Xiling (Masyarakat Seal Engravers). Ini adalah taman lahan basah pertama dan hanya di Cina menggabungkan kehidupan perkotaan, pertanian dan budaya. Hal ini tidak hanya luas pandangan terbuka, tetapi juga berbagai pandangan air. Hangat dan lembab, daerah memiliki iklim yang nyaman menampilkan curah hujan melimpah dan empat musim yang berbeda.

XiXi Wetland memiliki sejarah lebih dari 1.800 tahun dan warisan budaya yang melimpah. Ini situs asli dari Cina Selatan Opera; memiliki tradisional perahu naga kontes; mengandung kehidupan nyata dari sebuah desa air, menampilkan ulat makan dan produksi sutra.

Para ahli mengklaim Xixi memiliki empat fitur estetika yang berbeda: dingin, keliaran, kesederhanaan dan keanggunan. Dingin menunjukkan ketenangan seperti itu adalah tempat yang tenang di kota berisik; keliaran berkonotasi alam karena ini adalah tanah murni dalam masyarakat manusia; Kesederhanaan berarti kepolosan atau filosofi ‘kembali ke alam’ dan keanggunan berkaitan dengan pengumpulan tokoh sastra dan seniman. Berkat saluran air yang indah dan pemandangan pedesaan, lahan basah ini selalu menjadi lokasi yang ideal untuk seniman dan penulis untuk menghasilkan puisi, kaligrafi, lukisan dan prasasti.

  1. West Lake

Pada zaman dahulu, danau ini pernah bernama Air Wulin, Danau Qiantang, dan Danau Xizi. Nama Danau Xihu (“Danau Barat”) mulai digunakan pada zaman Dinasti Song. Danau Barat sangat terkenal di China maupun mancanegara karena pemandangan alamnya yang istimewa, juga karena banyaknya peninggalan bersejarah di sekitarnya, bahkan sampai dijuluki sebagai “surga di bumi”. Danau Barat termasuk “Objek Turisme Pemandangan Utama Nasional China” gelombang pertama dan “Sepuluh Besar Pemandangan China”.

Pada 24 Juni 2011 Danau Barat dimasukkan dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO. Danau Barat dikelilingi gunung pada ketiga sisinya. Luas danau ini mencapai 6,5 kilometer persegi, dengan panjang dari utara ke selatan 3,2 kilometer, dan dari timur ke barat 2,8 kilometer. Danau ini dibelah menjadi lima bagian oleh Bukit Gu, Tanggul Bai, Tanggul Su, dan Tanggul Yanggong.

  1. Song Dynasti Town

Hangzhou Song Dynasty Town, sebuah kawasan atau pusat wisata hiburan terkenal yang turut mewarnai sekaligus melengkapi indahnya pesona pariwisata dikota Hangzhou. Bahkan keberadaannya juga mampu menjadi sebuah pilihan lokasi wisata yang mampu menjawab sederetan pertanyaan tersebut.

Sejak diresmikan sebagai sebuah kawasan wisata, kehadirannya juga turut dikabarkan telah meraih hingga mendapatkan beragam jenis penghargaan. Diantaranya, yakni National Cultural Industry Base Sites atau sebuah indusri berbasis kebudayaan terkemuka di dunia.

Kami menyaksikanm pertunjukan theater di Song Chen. Ada 4 pintu masuk berbeda ke dalam theater, dan antrian panjang sudah berjubel di depannya. Theater itu lumayan besar, cukup dimuati lima sampai enam ratus orang, mungkin lebih. Hari itu penonton lumayan banyak, namun semuanya kebagian tempat duduk. Setelah semuanya dapat kursi, pertunjukan pun dimulai.

Ada banyak scene yang mereka tampilkan. Keseluruhan ada 6. Scene pembuka menampilkan dua orang badut China dengan aksi konyol mereka. Mereka berdua mencoba mengisi ember dengan air, namun embernya digantung di atas tiang tinggi. Setelah selesai mengisi ember, si badut pun turun, namun tidak sengaja menyengol tiangnya dan embernya jatuh ke arah penonton. Penonton di bangku depan pun kaget, namun mereka tertipu karena ternyata embernya tidak ada airnya. Dengan puas karena sudah berhasil mengecoh penonton, kedua badut itu pun masuk ke dalam.

Scene pertama dimulai. Ceritanya bertemakan zaman prasejarah, ketika orang masih berbaju kulit hewan dan bertopi bulu burung. Mereka menari-nari dan beratraksi layaknya manusia zaman kuno yang masih sering lompat-lompatan di atas pohon. Aksi singkat ini hanya berlangsung tidak sampai 10 menit.

Selanjutnya, scene kedua dimulai. Ceritanya tentang perayaan ulangtahun para kaisar dinasti Song. Sebagai pembuka. para biksu ditampilkan sedang duduk bersila sambil membaca doa sementara di belakangnya, sang Buddha memancarkan sinarnya dengan gemilang.

Kemudian tanpa kami sadari, dari tengah deretan bangku penonton, para penari cantik sudah berbaris rapi berurutan. Mereka mengenakan kostum selir kaisar, dan kemudian dengan moleknya berjalan ke arah panggung. Ketika sampai di panggung, tabir pun terbuka dan nampaklah tahta singgasana kebesaran kaisar lengkap dengan segala pernak-perniknya, juga dengan para dayang dan kasim yang siap melayani sang maharaja. Kaisar dan permaisurinya pun masuk dan segera menempati singgasana mereka. Sang kasim lantas mempersilakan kaisar untuk memulai acara ulang tahunnya.

Para duta besar negara sahabat datang untuk memberikan ucapan selamat, sambil menyuguhkan atraksi dari negeri mereka masing-masing. Namun pertama-tama, tarian dari negeri sendiri yang dipertunjukkan. Para penari lengkap dengan lengan baju yang sangat panjang, yang juga jadi selendang, menari dengan indahnya seperti peri-peri kahyangan. Saya hanya bisa berdecak kagum sambil senyum-senyum sendiri. Sang kaisar? Hanya elus-elus jenggot di atas kursinya.

Tarian kedua pun dipertontonkan. Kali ini dari timur tengah. Para penari berdandan ala belly dancer dari timur tengah, lengkap dengan mahkota bulu merak di atas kepala mereka. Diiringi musik rebana dan gambus, mereka pun meliuk-liukkan pinggangnya yang seksi nan ramping itu mengikuti irama musik. Kemudian tempo musik berubah cepat, dan main dancer segera menunjukkan kebolehannya. Bergoyang-goyang pinggul ala belly dance di tengah iringan disco padang pasir. Sang kaisar? Lagi-lagi hanya elus-elus jenggot di atas kursi singgasananya.

Setelah puas dihibur dengan tarian padang pasir, lampu panggung pun dimatikan dan tiba-tiba tepat dari muka deretan bangku terdepan, muncullah dua orang gadis dengan baju ketat mempertontonkan kelenturan tubuh mereka. Seorang penari berdiri di atas kepala penari yang lain sambil menyunggi candlestick di atas kepalanya, dengan lilin-lilin asli yang menyala. Sementara itu, beberapa penari lain menari di sekeliling mereka, juga sambil membawa lilin-lilin yang menyala. Menyatukan keindahan tarian China dengan aksi akrobatik. Luar biasa.

Scene kedua pun ditutup dengan atraksi para dayang istana memberi hormat kepada penonton dengan merentangkan kedua tangannya, dan berharap supaya para penonton sekalian selalu dianugerahi kesehatan, kemakmuran dan umur panjang.
Sebelum memulai scene selanjutnya, penonton diberi sedikit pengenalan lewat film dokumenter pendek tentang kerasnya sejarah yang pernah menerpa kota Hangzhou (saat masih bernama Lin’an, tentunya). Sebagai ibukota, kota ini selalu mendapat serangan dari bangsa barbar yang hendak menguasai China. Pertempuran demi pertempuran, dan ribuan, puluhan ribu, bahkan ratusan ribu nyawa pernah melayang demi merebut atau mempertahankan kota ini.

Tirai pun dibuka, dan nampak para prajurit berbaris rapi dengan tombaknya di muka gerbang ibukota, bersiap menahan serbuan musuh. Mereka mempertontonkan kemampuan bertempur mereka untuk membela negara. Kemudian, prajurit bertameng maju ke muka, dan bersiap-siap menghadapi serangan.

Tiba-tiba, di depan kami, para barbar penyerbu muncul dari bawah panggung, dikerek ke atas. Mereka bersenjatakan senjata pentung dan juga meriam. Setelah menembakkan meriam, mereka pun menyerbu kota yang mulai dikepung api. Tak kenal ampun, satu persatu prajurit penjaga kota dibantai dengan kejamnya. Akhirnya, sang panglima pun turun tangan mempertahankan kota. Satu persatu musuh yang hendak naik ke atas tembok gerbang ia lawan dan tak satupun berhasil menerobos pertahanannya.

Kemudian muncul prajurit berkuda. Hebatnya, benar-benar kuda hidup yang mereka tunggangi di pertunjukan ini. Meski tidak beratraksi macam-macam, namun saya cukup tertegun. Benar-benar total. Kemudian, para prajurit yang tadi pun keluar lagi. Bersiap menghadapi serbuah musuh, mereka pun maju menerima serangan. Namun, ratusan anak panah segera menyambar tubuh mereka, dan mereka pun tewas terkapar. Ketika sang panglima tengah sekarat, datanglah sang istri tercinta, mencari suaminya di tengah medan laga. Namun yang ia jumpai, suaminya tengah meregang nyawa. Dengan sedih, ia pun mencoba membawa pergi tubuh suaminya itu, namun apa daya, ia tak punya cukup tenaga untuk melakukannya.

Akhirnya, dengan tenaga yang tersisa, para prajurit mencoba meneruskan pertempuran. Mereka pun dengan gagahnya mencoba untuk kuat, dan kemudian muncullah sang jenderal pemberani, Yue Fei. Scene ketiga pun berakhir.

Setelah tabir kembali dibuka, para penari – kali ini berkostum hijau dan kuning – muncul sambil membawakan tarian-tarian dengan tema indahnya pemandangan Hangzhou. Untuk membuat cerita semakin nyata, air pun dipancurkan dari bagian atas panggung dan hampir membasahi deretan bangku paling depan.

Semprotan air itu bukan tanpa maksud. Adegan selanjutnya mengambil cerita dari legenda terkenal yang “konon katanya” pernah terjadi di Hangzhou, yaitu Legenda Ular Putih. Dikisahkan, waktu perayaan Qingming, hujan turun dengan derasnya di danau barat, sementara siluman ular putih dan adiknya, siluman ular hijau yang tengah menyamar menjadi sepasang gadis cantik dan molek, tengah berjalan-jalan menikmati keindahan. Mereka pun kebingungan mencari payung, dan pada saat yang sama muncullah sang sastrawan ganteng, Xu Xian, menawarkan payungnya pada mereka. Jadilah sepasang insan itu bertemu di jembatan Duan Qiao alias jembatan patah yang terkenal itu. (Konon kabarnya, muda-mudi yang tengah berpacaran kalau bisa berjalan sampai melewati Duan Qiao, cintanya akan langgeng. Mau coba?)

Aksi panggung mereka diiringi lagu soundtrack serial TV jadul “White Snake Legend” yang sudah sangat familiar di telinga saya (di telinga Anda juga, agaknya, karena dulu pernah diputar di SCTV sekitar tahun 90-an).

Karena siluman dan manusia tidak boleh bersatu, mereka pun dipisahkan oleh kehendak langit. Bai Suzhen, sang siluman ular putih, marah karena dipisahkan dari suaminya lantas mencoba menenggelamkan kuil Jin Shan milik biksu Fa Hai. Sayangnya, sang biksu yang sakti berhasil mengalihkan air bah itu, yang malah balik menenggelamkan kota Hangzhou dalam banjir bandang. Karena kesalahannya, akhirnya Bai Suzhen dikurung di kuil Lei Feng.

Legenda kedua adalah legenda lain yang telah mendunia, tidak mungkin kalau Anda sampai tidak tahu, yaitu legenda Sampek-Engtay (Liang San Bo – Zhu Ying Tai). Sepasang penari – laki-laki dan perempuan – menari dengan indahnya di tengah iringan musik yang juga pernah menjadi soundtrack film layar lebar “Liang Zhu” (dibintangi oleh Nicky Wu kalau tidak salah). Penari-penari lainnya dengan kostum kupu-kupu menari di sekeliling mereka. Ceritanya, setelah Engtay bunuh diri karena ditinggal mati kokoh Sampek, mereka berdua kemudian berubah menjadi kupu-kupu dan terbang beriringan. Pancaran background lighting berupa sinar-sinar laser yang berwarna-warni menambah indahnya aksi panggung mereka.

Tak puas di situ, sepasang penari utama itu bergelantungan dengan bantuan kain yang panjang dan berputar-putar di atas panggung, dengan pose akrobatik yang luar biasa indahnya. Yang membuat hadirin lebih bertepuk tangan lagi, selama bergelantungan di atas itu, “Engtay” hanya berpegangan pada “kokoh Sampek” dengan bantuan sebatang tongkat berputar yang ia gigit dengan giginya. Mungkin ingin memperagakan adegan ciuman, namun dibuat lebih dramatis dan artistik. Memang spektakuler.

Scene terakhir dibuka dengan introduksi singkat, memperkenalkan Hangzhou sebagai kota internasional karena di dalamnya berkumpul banyak sekali orang dari penjuru dunia. Sebagai tarian pembuka, beberapa orang gadis pemetik teh menari dalam tema “Long Jing Tea”. Ada juga beberapa orang gadis cantik dengan bodinya yang mulus membawa cawan teh Long Jing (asli atau tidak, saya nggak tahu), kemudian berjalan ke bangku VIP di tengah, dan memberikan teh di tangan mereka kepada penonton. “Kami yang berada di bangku VIP mendapatkan sugunan teh Long Jin dari gadis cantik penari itu”.

Tarian berikutnya adalah tarian India. India? Kok India ya? Entah apa alasannya, tetap saja tarian yang mereka suguhkan sangat menarik. Saya jadi ingat film-film Bollywood, hanya saja para penari di sini matanya sipit dan perutnya lebih ramping. Tetap saja, goyang pinggul, kedipan bulu mata dan lambaian tangannya seperti aslinya di tepi sungai Gangga sono. Tariannya singkat, hanya 3 menit, namun cukup membuat saya terpukau.

Selanjutnya, giliran tarian dari negeri Ginseng. Kata intro, namanya “Arirang”, namun saya tidak tahu apa benar atau tidak. Para gadis berbaju Hanbok dengan gendang mereka masing-masing memadu gerak dan irama tabuhan dengan indahnya. Gerakan lembutnya sangat kontras dengan tarian India yang barusan selesai.

Setelah menari selama 2 menit, giliran para penari pria yang keluar. Mereka mengenakan kopiah dengan tali yang bisa berputar-putar di atas kepala mereka. Dengan liukan kepalanya, mereka membuat tali itu berputar dalam lingkaran. Apa nggak capek ya lehernya? Tarian pun ditutup dengan Buchaechum, di mana para penari wanita yang berbaris melingkar serentak membuka kipas mereka dan nampak seperti bunga anggrek yang tengah mekar. Wah… indahnya…

Dan, aksi theatrikal mereka pun berakhir, dengan semua penari melakukan curtain call, memberi hormat kepada penonton yang membalasnya dengan applause meriah.