Hijrah dan Kekuasaan

IMG_0541

Hijrah dan Kekuasaan

Oleh: Dr. H. Manggaukang Raba

 

Pintu gerbang tahun baru hijriyah 1435, telah  kita masuki. Secara historis, Nabi Muhammad saw beserta para sahabatnya dari kota Mekah ke kota Madinah 1435 tahun silam. Tujuannya untuk menghindari kondisi penindasan dan intimidasi terhadap Nabi di kota kelahirannya, Mekah.

Hijrah adalah perpindahan untuk tujuan mencari tempat tinggal dari suatu tempat ke tempat lain yang baru. Tujuannya adalah untuk mendapatkan keadaan yang lebih baik. Hijrah adalah suatu perintah untuk melepaskan diri dari kondisi keterpurukan, keburukan, dan kenistaan  menuju kepada kebaikan. Berhijrah adalah meninggalkan segala kenistaan dan pelanggaran.

Refromasi dan Revitalisasi

Secara filosofis, hijrah sesungguhnya mengandung makna reformasi dan revitalisasi. Reformasi adalah perubahan radikal untuk perbaikan dalam bidang sosial, politik atau agama di dalam suatu masyarakat atau negara. Reformasi berarti perubahan dengan melihat keperluan masa depan, menekankan kembali pada bentuk asal, berbuat lebih baik dengan menghentikan penyimpangan-penyimpangan dan praktik yang salah atau memperkenalkan prosedur yang lebih baik, suatu perombakan menyeluruh dari suatu sistemkehidupan dalam aspek politik, ekonomi, hukum, dan sosial.

Revitalisasi adalah proses, cara, dan perbuatan menghidupkan kembali suatu hal yang sebelumnya kurang terberdaya. Sebenarnya revitalisasi berarti menjadikan sesuatu atau perbuatan menjadi vital. Revitalisasi itu adalah membangkitkan kembali vitalitas. Jadi, pengertian revitalisasi ini secara umum adalah usaha-usaha untuk menjadikan sesuatu itu menjadi penting dan perlu sekali.

Karena itu, Ismail al Faruqi menyebut hijrah sebagai langkah awal dan paling menentukan untuk menata masyarakat muslim yang berperadaban. Jadi, hijrah merupakan sebuah praktis reformasi  yang penuh strategi  dan taktik jitu yang terencana dan sitematis.

Tegasnya, substansi hijrah  merupakan strategi besar (grand strategy) dalam membangun peradaban Islam. oleh karena itu tepatlah apa yang dikatakan Hunston Smith dalam bukunya the Religion Man, bahwa peristiwa hijrah merupakan titik balik dari sejarah dunia.

Berdasarkan kenyataan itulah Sayyidina Umar bin Khattab menetapkannya sebagai awal tahun hijriyah. Dalam konteks ini ia menuturkan: “al hijrah farragat bainal haq wall bathil” (hijrah telah memisahkan antara yang haq dan yang bathil). J.H. Kramers dalam Shorter Encycolopeadia of Islam menobatkannya sebagai pembangunan imperium Arab yang paling handal dan cerdas. Maka sangat relevan ungkapan Prof Dr Fazlur Rahman yang menyebut hijrah sebagai “Marks of the founding of islamic community”.

Perspektif Kekuasaan

Prof Dr. Fazlur Rah­man, seorang neo-modernis ber­ke­bang­saan Pakistan, pernah me­nga­ta­kan bahwa peristiwa hijrah memiliki di­mensi strategis sosio-politis yang ikut me­nentukan proses perkembangan Islam pada masa awal. Seandainya Nabi SAW tidak melakukan migrasi dari Makkah al-Mukarromah menuju Ma­di­nah al- Munawwaroh, boleh jadi per­kembangan Islam akan sangat lamban dan terbatas sehingga ia akan ke­hi­langan dimensi kosmopolitannya yang kemudian menjadikannya sebagai aga­ma yang visiable dan memiliki pe­nga­ruh universal.

Dari sini, jelaslah bahwa peristiwa hijrah merupakan sebuah momentum dalam sejarah kehidupan sosial-politik Nabi SAW serta Islam itu sendiri. Ini berarti, hijrah bisa disebut sebagai sebuah perpindahan paradigma (paradigm shift) yang sangat diperlukan un­tuk mengantisipasi sekaligus men­ja­wab realitas yang selalu berubah.

De­ngan adanya paradigma baru tersebut, langkah-langkah dan perspektif- per­spek­tif baru dapat ditemukan dan di­ela­­­borasi sehingga dapat mem­per­lan­car proses pencapaian tujuan yang te­lah digariskan. Disinilah re­le­van­si dan signifikansi wacana hijrah yang sarat dengan spirit reformasi da­lam perspektif kekuasaan.

Muhammad SAW sebagai nabi sekaligus penguasa. Penguasa yang memimpin masyarakat heterogen. Heterogenitas tidak saja menyangkut kepentingan, tetapi juga keyakinan. Fakta sosial keberbedaan ini dengan visi kekuasaannya yang jelas tidak menjadi pemantik bagi mencuatnya konflik, tetapi justru modal sosial dalam membentuk Madinah yang menjadi role model bagi format negara yang berbasis pada musyawarah justru di tengah tren kekuasaan yang saat itu didominasi politik dinasti (kerajaan). “Musyawarah” untuk membangun ruang publik (public sphere).

Mungkin semacam demokrasi deliberatif dalam perspektif Habermas, yaitu kebijakan-kebijakan penting (perundang-undangan) dihasilkan dengan mendengar berbagai suara melalui jaring-jaring komunikasi publik masyarakat sipil.

Melalui traktat politik yang sering disebut “Piagam Madinah” spirit toleransi menjadi daulat utama dalam melihat realitas yang majemuk. Kebebasan agama mendapatkan jaminan konstitusi. Masyarakat lemah dan kelompok minoritas dilindungi penuh oleh negara. Masa-masa keemasan politik nilai di Madinah dapat digapai. Salah satu kuncinya karena Muhammad SAW mempraktikkan keteladanan dalam hal ihwal. Sebut saja, misalnya, tentang kesederhanaan, asketisme, satunya kata dengan perbuatan. Muhammad SAW tidak memosisikan diri sebagai “penguasa”, tetapi lebih sebagai “pelayan” yang berkhidmat bagi hajat orang banyak. Sekali pernah ia mendatangi sekelompok sahabatnya sambil bertekan pada sebatang tongkat. Mereka berdiri menyambutnya. Namun, dia berkata, “Jangan kamu berdiri seperti orang-orang asing yang mau saling diagungkan.”

Hijrah dalam perspektif kekuasaan, peristiwa hijrah merupakan momentum  paling penting dan monumental. Hijrah telah membawa perubahan dan pembaharuan besar  dalam pengembangan Islam dan masyarakatnya kepada sebuah peradaban yang maju dan berwawasan keadilan, persaudaraan, persamaan, penghargaan HAM, demokratis, inklusif, kejujuran, menjunjung supremasi hukum, yang kesemuanya dilandasi  dan dibingkai dalam koridor nilai-nilai syari’ah. Hijrah juga telah mengantarkan terwujudnya negara madani yang sangat modern, bahkan dalam konteks masyarakat pada waktu itu, terlalu modern.

Semangat  dan spirit hijrah harus kita implementasikan secara riil dalam kehidupan kita dewasa ini. Kita harus segera hijrah dan berubah. Saya kira, memasuki tahun baru Islam, ini adalah momentum bagi umat Islam untuk melakukan pembaruan atas segala hal yang terjadi, khususnya pada dirinya sendiri, terlebih terhadap umat dan tempat dimana umat berada saat ini. Wallahu’alam.