Catatan dari Kunjungan Delegasi NTB ke Tiongkok

kunjungankechina

Catatan dari Kunjungan Delegasi NTB ke Tiongkok

Oleh

Manggaukang Raba

 

Undangan Pemerintah RRT kepada gubernur NTB untuk mengunjungi Kota Beijing dan Provinsi Zhejiang RRT bisa jadi merupakan tindak lanjut kesepakatan antara Presiden Jokowi (Indonesia) dan Presiden Xi Jinping (RRT) untuk menyatukan visi proros maritim Indonesia dengan jalur sutra martim Cina.

Delegasi NTB yang dipimpin langsung oleh Gubernur NTB Dr. TGH. M Zainul Majdi ke RRT telah melakukan pertemuan dan pembicaraan dengan:

  1. Departemen of International Economic Affairs Kementerian Luar Negeri RRT
  2. International Organization China People’s Institute of Foreign Affairs (CPIFA)
  3. Pemimimpin Pemerintah Provinsi Zhejiang
  4. Departemen of Foreign and Overseas Chinese Affairs of Zhejiang Provincial People’s Government
  5. Pemimpin Pemerintah Kota Zhoushan
  6. Pemimpin Pemerintah Kota Ningbo
  7. Pemimpin Pemerintah Kota Xiangshan.

Hasil pertemuan dan pembicaraan dengan berbagai pihak di Kota Beijing dan Provinsi Zhejiang tersebut dapat dismpulkan bahwa:

  1. Pemerintah Beijing (RRT) dan CPIFA menyambut baik kedatangan delegasi NTB ke Tiongkok dan membuka diri untuk melakukan kerjasama dalam berbagai bidang yang sesuai dengan kebutuhan NTB terutama di bidang perdagangan, investasi bidang maritim, dan pariwisata.
  2. Pemerintah Provinsi Zhejiang siap melakukan kerjasama dengan pemerintah provinsi NTB (Sister Province) berdasarkan kesamaan potensi yang dimiliki. Hal ini ditandai dengan ditandatanganinya MoU antara Pemerintah Provinsi Zhejiang (RRT) dengan Pemerintah Provinsi NTB (Indonesia)
  3. Pemerintah Kota Zhoushan, Pemerintah Kota Ningbo, dan Pemerintah Kota Xiangshan menyambut baik adanya kerjasama perdagangan, pariwisata dan investasi dengan pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota di NTB.

Kunjungan di Kota Beijing

Setelah Gubernur NTB TGH M Zainul Majdi dan delegsi NTB melakukan audiensi dengan Pimpinan Deplu RRT yang diterima langsung oleh Deputy Director General Departemen of International Economic, Liu Jinsong, delegasi juga bertemu dengan IO- Cina People’s Institute of Foreign Affairs (CPIFA). Selanjutnya delegasi diajak mengunjungi Istana Kuno melewati Lapangan Tiananmen.

  1. Kota Beijing

Beijing adalah Ibu kota dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan merupakan salah satu kota terpadat di dunia, dengan populasi 19.612.368 pada tahun 2010. Beijing termasuk satu dari empat kotamadya di RRT yang sebanding dengan provinsi dalam struktur administrasi pemerintahan Tiongkok. Berbatasan dengan provinsi Hebei di utara, barat, selatan dan beberapa bagian di timur, dan dengan Tianjin di wilayah tenggara.

Kota ini merupakan kota terbesar kedua di Tiongkok setelah Shanghai. Penghubung transportasi utamanya adalah dengan menggunakan jalur kereta api, jalan raya dan jalan tol di segala penjuru kota. Beijing juga merupakan titik utama untuk penerbangan internasional ke Tiongkok. Beijing merupakan pusat politik, pendidikan, dan kebudayaan di Tiongkok, di mana Shanghai dan Hong Kong menjadi pusat perekonomian.

Pemerintahannya sebagai munisipalitas di bawah administrasi langsung dari pemerintahan nasional, Beijing dibagi menjadi 14 perkotaan dan pinggiran kota kabupaten dan dua kabupaten pedesaan.

Beijing adalah kota yang paling berkembang diantara kota-kota di Tiongkok, dengan industri tersier menyumbang 73,2% dari Produk Domestik Bruto (PDB), itu adalah kota pasca industri pertama di daratan Tiongkok. Beijing adalah rumah bagi 26 perusahaan Global Fortune 500, menempati posisi ketiga di dunia setelah Tokyo dan Paris.

Keuangan adalah salah satu industri yang paling penting. Pada akhir tahun 2007, ada 751 organisasi keuangan di Beijing yang menghasilkan 1,286 Miliar RMB, 11,6% dari pendapatan total industri keuangan seluruh negara. Itu juga menyumbang 13,8% dari PDB Beijing, persentase tertinggi dari setiap kota di Tiongkok.

  1. Ministry of Foreign Affairs RRC

Departemen Luar Negeri dari Pemerintah Republik Rakyat China adalah lembaga eksekutif yang bertanggung jawab untuk hubungan luar negeri antara Republik Rakyat Cina dan negara-negara lain di dunia. Badan ini dipimpin oleh Menteri Luar Negeri. Menteri saat ini adalah Wang Yi. Badan ini memiliki kantor pusat di Chaoyang District, Beijing (Chaoyangmen Nandajie Nomor 2, Chaoyang District, Bijing – China 100701).

Ini adalah salah satu dari beberapa kementerian di bawah Dewan Negara Republik Rakyat Cina. Badan ini bertanggung jawab untuk merumuskan kebijakan luar negeri, keputusan, dokumen urusan luar negeri, dan pernyataan hubungan dengan RRC. Hal ini juga melakukan negosiasi dan menandatangani perjanjian asing bilateral dan multilateral. Badan ini juga mengirimkan perwakilan luar negeri ke negara-negara lain.

  1. Cina People’s Institute of Foreign Affairs (CPIFA)

CPIFA) didirikan pada bulan Desember 1949 atas prakarsa almarhum Perdana Menteri Zhou Enlai, yang pertama dari jenisnya yang ditujukan untuk orang-to-people diplomacy setelah berdirinya Cina Baru. Almarhum Premier Zhou menjabat sebagai Presiden Kehormatannya sampai akhir hayatnya. Presiden Kehormatan lain adalah almarhum Wakil Premier dan Menteri Luar Negeri Marsekal Chen Yi.

Berturut-turut menjabat sebagai Presiden CPIFA yang Zhang Xiruo (1949-1973), Hao Deqing (1977-1983), Han Nianlong (1983-1991), Liu Shuqing (1991-1997), Mei Zaorong (dari tahun 1997 sampai 2003), Lu Qiutian (2003-2006). Presiden saat ini adalah Yang Wenchang.

Tujuan CPIFA yang terlibat dalam studi tentang situasi dunia, isu-isu internasional dan kebijakan luar negeri, dan untuk melakukan pertukaran dengan negarawan, ulama, lembaga penelitian yang relevan dan organisasi sosial dari berbagai negara, dengan maksud untuk meningkatkan saling pengertian dan persahabatan antara rakyat China dan orang-orang dari semua negara-negara lain, meningkatkan pembentukan dan pengembangan hubungan persahabatan dan kerja sama antara Cina dan negara-negara lain dan membuat kontribusi bagi perdamaian dan perkembangan dunia.

CPIFA telah mempertahankan kontak yang luas dengan negarawan terkenal dan diplomat (termasuk mantan kepala negara, mantan kepala menteri pemerintah dan asing, anggota parlemen, pemimpin partai politik dan pemimpin beberapa negara yang belum menjalin hubungan diplomatik dengan China), serta tokoh masyarakat, pengusaha terkemuka, lembaga penelitian terkenal tentang isu-isu internasional dan ulama dari lebih dari 120 negara di dunia.

Hal ini memainkan tuan rumah mengunjungi delegasi asing dan mengatur delegasi Cina untuk mengunjungi luar negeri. Hal mensponsori ceramah oleh selebriti, mengatur dan berpartisipasi dalam berbagai macam kuliah akademis dan seminar, sehingga untuk menyelidiki dan pertukaran pandangan mengenai isu-isu internasional dan regional di bidang politik, ekonomi, budaya, keamanan dan bidang lainnya. Ini juga memiliki sebuah publikasi triwulanan Luar Negeri Journal (edisi bahasa Inggris).

Anggota CPIFA Dewan terdiri dari tokoh-tokoh terkemuka dari semua kalangan di Cina, termasuk aktivis internasional, diplomat senior dan ulama terkenal dan spesialis dalam studi internasional. CPIFA dipimpin oleh seorang Presiden dan empat Wakil Presiden, yang dibantu oleh seorang Sekretaris Jenderal dan beberapa Deputi Sekretaris Jenderal mereka sehari-hari kerja.

  1. Lapangan Tiananmen

Tiananmen yang artinya “pintu Surga yang Damai” adalah nama bangunan pintu selatan kompleks Istana Kuno Dinasti Ming dan Qing di pusat kota Beijing, Tiongkok. Pintu ini adalah pintu gerbang utama istana pada zaman pemerintahan Dinasti Ming dan Qing.

Bangunan pintu ini terletak di sebelah utara Lapangan Tiananmen, di tengah pintu ini ada tergantung foto besar Ketua Mao Zedong yang diperbarui sebelum peringatan berdirinya Republik Rakyat Tiongkok tanggal 1 Oktober tiap tahunnya. Di samping kiri dan kanan terdapat plakat berdasar merah dengan tulisan putih yang berarti harfiah “Berjayalah selamanya Republik Rakyat Tiongkok dan Berjayalah selamanya persatuan dunia”. Pada tahun 1964, karakter Hanzi tradisional di atas diganti menjadi karakter Hanzi sederhana.

Lapangan Tiananmen artinya “Lapangan Luas di Pintu Surga yang Damai”, adalah lapangan di pusat kota Beijing, Tiongkok. Lapangan ini merupakan lapangan sejenis yang terluas di dunia saat ini. Lapangan ini terletak di luar pintu selatan Istana Kuno Dinasti Ming dan Qing, mendapat namanya karena pintu selatan istana bernama Tianan Menwai.

Di sebelah utara lapangan ini ada tiang bendera di mana setiap harinya diadakan upacara penaikan dan penurunan bendera oleh tentara kehormatan. Di lapangan ini tidak boleh ada papan dan poster reklame, bahkan bus dan kendaraan yang melintasi jalan di depan lapangan juga tidak diperbolehkan memiliki reklame di badan bus maupun kendaraan.

Lapangan ini panjangnya 800 meter dari utara ke selatan serta lebar 500 meter dari barat ke timur, lapangan ini memiliki luas 440.000 m2.

Di sebelah selatan lapangan ini, ada dibangun sebuah bangunan yang merupakan Mausoleum Ketua Mao. Di dalam bangunan ini, jenazah Ketua Mao Zedong yang diawetkan di dalam kotak kaca ditempatkan.

Beberapa peristiwa penting bersejarah yang terjadi di lapangan ini di antaranya:

 

  1. Istana Kuno Dinasti Ming dan Qing

Terletak di pusat distrik Kota Beijing terdapat kelompok bangunan istana berdinding merah dan beratap glasir bewarna kuning keemas-emasan, itulah Istana Kuno Beijing yang termahsyur di dunia. Istana Kuno juga dinamakan Kota Terlarang (Forbidden City), merupakan istana kerajaan Dinasti Ming dan Qing antara abad ke-15 dan ke-17, dicantumkan dalam Daftar Nama Warisan Dunia pada tahun 1987.

Istana Kuno yang amat megah itu selesai dibangun pada tahun 1420, sampai sekarang sudah bersejarah lebih 584 tahun . Dari Kaisar Ke-3 Dinasti Ming, Zhu Di , sampai Kaisar terakhir Dinasti Qing, Pu Yi, 24 kaisar bertakhta di istana tersebut. Struktur bangunan dan tata ruang Istana Kuno Beijing dapat dikatakan merupakan wakil paling sempurna dari bangunan istana Tiongkok selama ribuan tahun. Bentuk keseluruhannya persegi panjng, menempati tanah seluas lebih 72 hektar.

Bangunan-bangunan di Istana Kuno itu dibangun sangat simetris dengan garis poros yang menghubungkan selatan dan utara, dikelilingi oleh pagar tembok setinggi hampir 8 meter, dan di luar pagar tembok terdapat sungai selebar 53 meter mengelilingi seluruh bangunan Istana Kuno. Di keempat sudut pagar tembok Istana itu masing-masing terdapat sebuah menara pojok yang bentuknya sangat indah dan unik. Menurut perhitungan tradisional Tiongkok, di Istana Kuno seluruhnya terdapat 9900 buah kamar. Bangunan yang sangat banyak jumlahnya itu sangat rapi dan teratur penataannya, sehingga membentuk suatu kelompok bangunan yang terintegrasi dan harmonis, laksana sebuah lukisan panjang yang penuh daya pesona. Tiga balairung besar yang secara berurutan terdapat dibagian paling depan Istana Kuno, yaitu balairung-balairung Tai He, Zhong He dan Bao He masing-masing merupakan bangunan terpenting di Istana Kuno. Ketiga balairung itu dibangun di atas landasan tinggi yang dikelilingi oleh lankan marmer putih

Di tempat-tempat itulah upacara naik takhta para kaisar dan upacara penting lainnnya dilangsungkan. Garis poros Istana bahkan garis poros seluruh Kota Beijing melintas di bawah singgasana kaisar. Di belakang ke-3 balairung itu masih terdapat 3 balairung yang merupakan tempat kaisar melakukan kegiatan politik dan tempat tinggal kaisar dan permaisuri, sedang kedua sisinya adalah tempat tinggal para selir dan pangeran. Sedang bagian terbelakang adalah taman kerajaan yang sangat indah.

Terkait dengan Istana Kuno Beijing ini Gubernur NTB TGH M Zainul Majdi tidak bisa menyembunyikan keagumannya dengan mengatakan: “Dengan melihat Istana Kuno ini (baca: istana kerajaan Dinasti Ming dan Qing abad ke-5 dan 17), ternyata tidak ada apa-apanya kerajaan-kerajaan di Indonesia dulu” ungkapnya sambil berjalan melintasi gerbang-gerbang istana itu. (mr)